Sistem Operasi Pikiran

Pikiran kita bekerja sebagai sebuah sistem. Berikut adalah lima prinsip yang mendasari sistem operasi pikiran kita, yang diadopsi dari buku Optimalkan Otak Anda karya Bill Lukas (2006).

Otak suka menjelajah dan memahami dunia. Otak kita terus berusaha memahami apa yang dialami, terus mencari data baru dan pengalaman baru. Otak merupakan organ yang sangat tekun. Sebab itu jika Anda ingin otak yang lebih tajam, maka Anda harus memberikan sebanyak mungkin pengalaman baru dan waktu yang cukup untuk memahaminya. Otak Anda cenderung bekerja lebih baik ketika ia memiliki peta, atau paling tidak, tahu ke mana ia akan pergi.

Otak senang menjalin hubungan. Otak belajar dengan cara membuat koneksi, dan selalu berusaha mengisi kekosongan ketika kehilangan informasi. Akson dan dendrit saling terkait agar dapat memahami arti dan agar dapat mengalir dari satu neuron ke neuron yang lain. Inilah kenyataannya: otak Anda sangat pintar membuat koneksi sehingga otak selalu berusaha mengisi kekosongan ketika kehilangan informasi. Sebagai contoh, Anda melihat seekor kucing berjalan di belakang pagar dan, walaupun bagian dari tubuh kucing itu tertutup oleh tiang pagar, otak Anda mengisi kekosongan informasi dan berpikir bahwa ia melihat seekor kucing dengan tubuh lengkap. Atau, ketika seseorang memberitahukan sebagian informasi yang kita butuhkan, otak segera mulai mengisi kekosongan informasi. Oleh karena itu,  jika Anda berusaha menyelesaikan masalah, kecenderungannya positif. Tetapi jika Anda berusaha berkomunikasi dengan rekan kerja atau keluarga Anda dengan hanya memberikan sebagian cerita, hal ini dapat menimbulkan kecurigaan, gosip, dan rasa tidak enak pada diri orang lain karena otak mereka berusaha mengisi kekosongan informasi itu.

Otak berusaha membentuk pola. Ketika neuron membentuk koneksi yang sama atau sejenis dengan neuron lain selama beberapa waktu, terbentuklah sebuah pola. Pembentukan pola adalah inti dari sistem pengarsipan otak Anda, dan hal ini menjadi kemampuannya untuk memahami apa yang sudah dipelajari. Jika Anda belum pernah melihat singa, maka pada kali pertama seekor singa berlari menuju Anda, Anda mungkin akan menganggap singa itu sejenis kuda. Anggap saja Anda selamat dari terkamannya, dan lain kali seekor singa menyerang Anda, Anda akan ketakutan. Otak Anda sudah memperhatikan bahwa binatang berbulu berwarna keemasan dan raungan menyeramkan itu bukanlah binatang jinak. Sebuah pola sudah terbentuk, dan semua singa yang muncul di masa mendatang akan dimaksukkan ke dalam “arsip binatang berbahaya”. Kemampuan kita membuat pola adalah inti dari peradaban kita. Kita mengatur masyarakat kita ke dalam berbagai rumah, jalan, dan kota. Kita membangun jalur transportasi. Kita menciptakan bahasa dan sistem angka. Lucunya, sifat positif ini juga dapat membatasi potensi kita ketika pola-pola tertentu menjadi terlalu mendarah daging sehingga kita sulit berubah.

Otak senang meniru. Selain membuat pola, otak juga suka meniru. Sebelum koneksi sinapsis terjadi belum ada pengetahuan, kecuali pengetahuan yang sudah kita bawa sejak lahir. Cara paling efisien untuk membuat koneksi terjadi adalah dengan melihat apa yang dilakukan orang lain dan menirunya. Jadi, kita belajar berbicara ketika masih kecil dengan memperhatikan dan mendengarkan orang lain. Kita mempelajari kebiasaan sosial melalui pengamatan. Kemampuan otak dalam meniru orang lain adalah penting. Memperhatikan apa yang dilakukan orang lain merupakan cara terbaik untuk belajar. Adanya panutan yang memiliki tingkah laku tertentu di rumah dan tempat kerja adalah metode ampuh untuk belajar. Di sebagian keluarga, proses belajar terjadi dengan meniru tingkah laku anggota keluarga yang lain.

Otak tidak dapat bekerja dengan baik jika stres. Otak Anda berevolusi dari tingkat bawah ke tingkat yang lebih tinggi. Fungsi paling primitif di bagian bawah otak anda adalah batang otak. Di sinilah keputusan cepat mengenai hidup dan mati dibuat, perintah yang biasanya diartikan sebagai “lari atau melawan”. Jika otak reptilia dan otak kecil menerima ancaman atas nyawa Anda, mereka harus bertindak cepat. dalam praktiknya, otak memicu pelepasan senyawa kimiawi seperti adrenalin dan noradrenalin (juga dikenal sebagai epinefrin dan norepinefrin), yang membuat tubuh Anda bersiaga. Hasilnya, lengan dan kaki Anda memberikan perlawanan terhadap orang yang menyerang, atau kaki Anda mulai bergerak dengan cepat untuk melarikan diri dari ancaman itu. Ketika stres, otak hanya dapat berpikir tentang cara bertahan hidup. Darah dan energi yang sedianya dapat digunakan untuk memikirkan hal-hal yang lebih rumit di otak mamalia dan otak belajar Anda, dialihkan untuk memastikan agar Anda tetap hidup. Hal ini tidak berarti semua stres itu buruk untuk Anda. Sebaliknya, tanpa tantangan yang juga dibutuhkan oleh otak, Anda tidak akan tumbuh dan berkembang. Walaupun demikian, beberapa orang merasa lebih mudah memikirkan hal-hal pelik ketika mereka menghadapi malapetaka. Agar Anda dapat belajar dengan efektif, dibutuhkan keseimbangan antara tantangan besar dan ancaman rendah.